kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45678,30   -12,83   -1.86%
  • EMAS911.000 -1,41%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Prospek bisnis apotek online masih terbuka lebar


Senin, 06 Januari 2020 / 16:27 WIB
Prospek bisnis apotek online masih terbuka lebar
ILUSTRASI. Gerai waralaba atau kemitraan apotek K24 yang buka 24 jam, saat pameran International Franchise, License and Business Concept Expo (IFRA) di Jakarta Convention Center, Jumat (17/6). KONTAN/Daniel Prabowo/17/06/2011

Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Tren bisnis apotek online di Indonesia diproyeksi akan terus berkembang di masa depan. Hal ini sejalan dengan terus meningkatnya penjualan obat di tanah air.

Pada 2018, misalnya. Industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional di dalam negeri tumbuh 4,46% dan berkontribusi sebesar 2,78% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada tahun ini, bisnisnya diperkirakan tumbuh 6,5% dibanding 2018.


Dus, prospek bisnis penjualan obat secara online diperkirakan masih sangat besar. Apalagi, bagi sebagian masyarakat, membeli produk lewat kanal digital (online) dinilai memiliki banyak keuntungan. Paling tidak, menurut Kun Arief Cahyantoro, Pengamat E-Commerce dari ITB, harga produk yang dijual secara online lebih pasti dan terjangkau.

Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan berbagai pilihan produk yang dibutuhkan. Membeli obat-obatan lewat apotek online juga lebih nyaman. "Konsumen bisa membelinya secara praktis kapan dan di manapun mereka berada. Selain itu, konsumen juga diberikan pilihan produk yang lebih beragam," kata Kun Arief.

Kun Arief menjelaskan, di pasar luar negeri, layanan e-commerce penjualan obat disebut sebagai bisnis over the counter (OTC) medicinal products. Bisnis ini awalnya dimulai pada tahun 2014 oleh perusahaan farmasi untuk tujuan efektivitas distribusi, manajemen efisiensi stok, dan peningkatan daya saing harga dari perusahaan retailer-nya.

Bisnis ini lalu dikembangkan oleh Grup Alibaba pada tahun 2015 dengan membangun Ali Health sebagai one stop service dari OTC medicinal product untuk banyak rumah sakit dan dokter di China. Nah, respons pasar terhadap layanan OTC medicinal product ini sangat bagus. Alhasil, bisnis Ali Health di sektor ini terus berkembang.

Kun Arief menggambarkan, pada 2017, Ali Health melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 739% hanya dari e-commerce OTC medicinal products. Jadi, bisnis ini punya potensi yang besar untuk dikembangkan. Bukan hanya penjualan obat bebas dan obat resep, tapi juga bisa terintegrasi dengan diagnosa dan pembuatan resep dari dokter, paparnya.

Nah, lanjut Kun Arief, startup e-commerce seperti GoApotik, ProSehat dan sejenisnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari bisnis OTC medicinal product.

Hanya lewat aplikasi startup tersebut, pembelian obat dapat dilakukan tanpa melalui konsultasi rumahsakit atau dokter. Ini terutama obat-obat bebas yang dapat dibeli tanpa resep. "Karena itu, ke depannya bisnis e-commerce OTC medicinal products masih prospektif," kata dia.


Tag

TERBARU

×